Beranda > Tentang Panin Bank > CSR > Reforest

CSR Reforest Indonesia



Fakta

Program CSR Penghijauan Nasional Yang Dikoordinasikan Oleh Panin Bank

PEMANASAN GLOBAL

Pemanasan global adalah meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan sejak pertengahan abad ke-20. Dalam laporannya pada tahun 2007, Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan bahwa suhu permukaan bumi naik 0,18ºC sampai 0,74ºC sepanjang abad ke-20. Hal ini memperlihatkan bahwa naiknya suhu sejak pertengahan abad ke-20 ini kebanyakan disebabkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil dan pembalakan hutan.

Berdasarkan proyeksi iklim yang dibuat oleh IPCC, suhu permukaan bumi akan naik 1,1°C sampai 6,4°C pada abad ke-21 ini. Peningkatan suhu bumi akan menyebabkan naiknya permukaan laut serta berubahnya frekuensi dan curah hujan yang dapat berdampak pada meluasnya kawasan gurun di wilayah subtropis.

Kenaikan suhu tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah Kutub Utara, dan akan berakibat pada menyusutnya gletser dan mencairnya lapisan es di daratan maupun lautan. Kondisi ini dapat pula mengakibatkan perubahan frekuensi dan intensitas hujan yang ekstrim, punahnya berbagai jenis satwa serta terganggunya panen di sejumlah kawasan. Dampak pemanasan maupun berbagai perubahannya tidak selalu sama di semua belahan bumi, meski hal ini belum dapat dipastikan oleh para ahli di dunia.

PEMBABATAN HUTAN DI INDONESIA

Penyebab utama susutnya kawasan hutan di Indonesia adalah pembalakan liar dan konversi lahan, pemberian HPH (hak pengusahaan hutan) yang berlebihan kepada kalangan industri serta program transmigrasi.

Sekitar 10% hutan tropis dunia terletak di Indonesia, dan di kawasan hutan inilah hidup beragam spesies flora dan fauna endemik dan langka. Sejak tahun 1950, hutan di negara ini terus menciut dari 162 juta hektar menjadi hanya 95 juta hektar pada tahun 2005. Lahan hutan terluas ada di Irian Jaya (32 juta hektar), disusul Kalimantan (28 juta hektar).

Laju kerusakan hutan menjadi tidak terkendali sejak mantan Presiden Soeharto turun pada tahun 1998. Sepanjang kurun waktu 2000-2005, negara ini kehilangan sekitar 1,8 juta hektar hutan per tahun.

POHON TREMBESI

Pohon trembesi atau pohon hujan dinilai sangat baik untuk mengurangi efek emisi karbon karena spesies ini dapat menyerap 28 ton gas karbon per tahun, menurut hasil kajian yang dilakukan Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Spesies tanaman Albiziasaman yang berasal dari Amerika Selatan tersebut dapat tumbuh sampai setinggi 20 meter, dan mampu menyerap air dalam jumlah banyak. Pohon trembesi memiliki batang yang besar berwarna coklat kehitaman, dengan warna bunga merah-kekuningan dan termasuk keluarga kacang-kacangan.

Pohon jenis ini banyak ditanam sebagai pohon peneduh di pinggir jalan dan pekarangan rumah yang luas, dan juga di Tempat Penimbunan Kayu (TPK) oleh Perum Perhutani. Trembesi mampu menyerap air secara maksimal, dan kayunya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sementara bijinya dapat dimakan sebagai makanan ringan dan air rebusan bijinya dapat diminum sebagai obat.